LAPORAN PRAKTIKUM
RUMUS BUNGA DAN DIAGRAM BUNGA(FLOS)

Nama : Muhammad Irsan
NIM : 14
222 102
Dosen Pengampu
Ike Apriani, M. Si
Asisten
Tri Oktari
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS TARBIYAH DAN
KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM
NEGERI RADEN FATAH
PALEMBANG
2015
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Bunga merupakan
alat reproduksi seksual. Suatu bunga yang lengkap mempunyai daun kelopak, daun
mahkota, benang sari, putik, dan daun buah. Bunga terdiri atas bagian
yang fertil, yaitu benang sari dan daun buah, serta bagian
yang steril yaitu daun kelopak dan daun mahkota. Bunga merupakan
sebagian dari cara reproduksi seksual yang menghasilkan biji, dan
akhirnya dari bijilah diperoleh tumbuhan baru (Tjitrosomo, 1983).
Bagian tumbuhan
yang sering dideskripsikan adalah bunga. Dalam mendeskripsikan bunga, selain
dengan kata-kata, dapat ditambahkan dengan gambar-gambar yang melukiskan
bagian-bagian bunga atau berupa diagram bunga. Kecuali dengan diagram, susunan
bunga dapat dinyatakan dengan sebuah rumus yang terdiri atas lambang-lambang,
huruf-huruf dan angka-angka yang semua itu dapat memberikan gambaran mengenai
berbagai sifat bunga beserta bagian-bagiannya. Untuk memudahkan mengamati bagian-bagian bunga yang
terdiri dari tangkai bunga (pedicellus), dasar bunga (receptaculum),
kelopak (calyx), mahkota (corolla), benang
sari (stamen), dan putik (pistillum) secara singkat dapat ditulis
dengan menggunakan rumus bunga atau dengan diagram bunga untuk memudahkan kita
dalam mengidentifikasi suatu bunga. Diagram
bunga merupakan gambaran proyeksi pada bidang datar dari semua bagian yang
dipotong melintang, jadi pada diagram itu digambarkan penampang-penampang
melintang daun-daun kelopak, tajuk bunga, benang sari, dan putik, juga
bagian-bagian lain yang masih ada selain keempat bagian utama
tersebut (Tjitrosoepomo, 1995).
B.
Tujuan
Adapun tujuan
praktikum tentang Rumus dan Diagram Bunga adalah untuk membuat rumus bunga dari
diagram bunga.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. A. Pengertian Diagram Bunga
Menurut Tjitrosoepomo
(2009), Diagram bunga ialah suatu gambar proyeksi pada bidang datar dari
semua bagian bunga yang dipotong melintang, jadi pada diagram itu digambarkan
penampang-penampang melintang daun-daun kelopak tajuk bunga, benang
sari, dan putik. Perlu diperhatikan, bahwa lazimnya, dari daun-daun kelopak dan
tajuk bunga di gambarkan penampang melintang bagian tengah-tengahnya, sedangkan
dari benang sari digambarkan penampang kepala sari, dan dari putik penampang
melintang bakal buahnya.Dari diagram bunga itu selanjutnya dapat diketahui
pula jumlah masing-masing
bagian bunga tadi dan
bagaimana letak dan susunannya antara yang satu dengan yang lain. Dalam
diagram bunga, masing-masing bagian harus digambarkan sedemikian rupa, sehingga
tidak mungkin dua bagian bunga yang berlainan digambarkan dengan lambang
yang sama. Jika kita hendak membuat diagram bunga, kita harus memperhatikan
hal-hal berikut.
1. Letak bunga pada tumbuhan dalam hubungannya dengan
perencanaan suatu diagram, kita hanya membedakan dua macam
letak bunga:
a. bunga
pada ujung batang atau cabang (flosterminalis).
b. bunga
yang terdapat dalam ketiak daun (flos axillaris).
2. Bagian-bagiann bunga yang akan kita buat diagram tadi
tersusun dalam berapa lingkaran.
Dalam membicarakan
tentang bunga dan bagian-bagiannya, telah diterangkan, bahwa bagian-bagian
bunga duduk diatas dasar bunga, masing-masing teratur dalam satu lingkaran atau
lebih. Dalam diagram bunga, masing-masaing bagian harus digambarkan sedemikian
rupa, sehingga tidak mungkin dua bagian bunga yang berlainan digambarkan dengan
gambar yang sama. Mengingat, bahwa yang digambar pada diagram itu
penampang-penampang melintang masing-masing bagian bunga yang telah dijelaskan
diatas (Tjitrosoepomo, 2009).
Jika dari bunga yang hendak kita buat diagramnya telah kita
tentukan kedua hal tersebut, kita mulai dengan membuat sejumlah lingkaran yang
konsentris, sesuai dengan jumlah lingkaran tempat duduk bagian-bagian bunganya.
Kemudian melalui titik pusat lingkaran-lingakran yang konsentris itu kita buat
garis tegak lurus (vertik).
Untuk bunga di ketiak daun, garis itu menggambarkan bidang yang dapat dibuat
melalui sumbu bunga, sumbu batang yang mendukung bunga itu, dan tengah-tengah
(poros bujur) daun, yang dari ketiaknya muncul bunga tadi. Bidang ini disebut
bidang median. Pada garis yang menggambarkan bidang median itu disebelah atas
lingkaran yang terluar digambarkan secara skematik penampang melintang batang
(digambarkan sebagai lingkaran kecil) dan disebelah bawahnya gambar skematik
daun pelindungnya. Pada lingkaran-lingkarannya sendiri berturut-turut dari luar
ke dalam digambarkan daun-daun kelopak, daun-daun tajuk, benang sari, dan yang
terakhir penampang melintang bakal buah (Tjitrosoepomo, 2009).
B. B. Dasar Bunga (receptaculum
atau torus)
Menurut
Hidayat (1995), di mana telah dikemukakan bahwa bunga dapat diaggap sebagai
tunas yang mengalami metamorphosis dan dasar bunga adalah tidak lain dari ujung
batang yang terhenti pertumbuhannya, biasanya menebal atau melebar dan menjadi
pendukung bagian-bagian bunga yang merupakan metamorphosis daun, yaitu kelopak,
tajuk bunga, benang sari, dan putik. Dasar pada bunga sering memperlihatkan
bagian-bagian yang khusus mendukung satu bagian bunga atau lebih dan bergantung
pada bagian bunga yang di dukungnya, bagian dasar bunga diberi nama yang
berbeda-beda.
1. Pendukung tajuk bunga atau antofor
(anthophorum) yaitu bagian dasar
bunga tempat duduknya daun-daun tajuk bunga, seperti terdapat pada bunga
anyelir (Dianthus caryophyllus L.).
2.
Pendukung benang sari atau androfor (androphorum), bagian dasar bunga yang sering kali meninggi atau
memanjang dan menjadi tempat duduknya benang sari, misalnya bunga maman (Gynandropsis pentaphylla D.C).
3.
Pendukung putik atau ginofor (Gynophorum)
suatu peninggian pada dasar bunga yang khusus menjadi tempat duduknya putik,
seperti terdapat pada bunga teratai besar (Nelumbium
nelumbo Druce).
4. Pendukung benang sari dan putik atau androginofor
(androgynophorum), bagian dasar
bunga yang meninggi dan mendukung benang sari dan putik di atasnya, misalnya
pada bunga markisah (Passiflora
quadrangularis L.).
5. Cakram (discus), bagian dasar bunga sering terdapat semacam peninggian atau
bantalan berbentuk cakram yang sering kali mempunyai kelenjer madu, misalnya
pada bunga jeruk (Citrus sp)
C. C. Bagian Bunga
Menurut
Moertolo (2004),
pada umumnya bunga terbagi menjadi 4 bagian yaitu:
1. Tangkai bunga (pedicellus), yaitu
bagian bunga yang masih jelas bersifat batang, padanya seringkali terdapat daun-daun
peralihan, yaitu bagian-bagian yang menyerupai daun, berwarna hijau, yang
seakan-akan
merupakan peralihan dari daun biasa ke hiasan bunga.
2. Dasar bunga (receptaculum), yaitu
ujung tangkai yang seringkali melebar, dengan ruas – ruas yang amat pendek,
sehingga daun – daun yang telah mengalami metamorfosis menjadi bagian – bagian
bunga yang duduk amat rapat satu sama lain, bahkan biasanay lalu tampak duduk
dalam satu lingkaran.
3. Hiasan bunga (perianthium), yaitu
bagian bunga yang merupakan penjelmaan daun yang masih tampak berbentuk
lembaran dengan tulang – tulang atau urat – urat yang masih jelas. Biasanya
hiasan bunga dapat di bedakan dalam dua bagian yang masing – masing duduk dalam
satu lingkaran. Jadi bagian – bagian hiasan bunga itu umumnya tersusun dalam
dua bagian antara lain: kelopak (kalix) dan mahkota
bunga (corolla).
4. Alat-alat
kelamin jantan (androecium), bagian ini sesungguhnya juga
merupakan metamorfosis daun yang menghasilkan serbuk sari. Androecium
terdiri atas sejumlah benang sari (stamen).
5. Alat kelamin betina (gynaecium), yang
pada bunga merupakan bagian yang biasanya disebut putik (pistilum), juga putik
terdiri atas metamorfosis daun yang disebut daun buah (carpella). Pada
bunga dapat ditemukan satu atau beberapa putik, dan setiap putik dapat terdiri
atas beberapa daun buah.
D.
Rumus Bunga
Rumus bunga
merupakan gambaran tentang keadaan suatu bunga. Rumus bunga menunjukkan keadaan
kelopak bunga, mahkota, organ-organ reproduktifnya, dan simetrinya
(Rosanti, 2013).
Lambang-lambang
yang dipakai dalam rumus bunga memberitahukan sifat bunga yang bertalian dengan
simetrinya atau jenis kelaminnya, huruf-huruf merupakan singkatan nama
bagian-bagian bunga. Disamping itu masih terdapat lambang-lambang lain lagi
yang memperlihatkan hubungan bagian-bagian bunga satu sama lain (Tjitrosoepomo,
1985).
Menurut Rosanti
(2013), secara berturut-turut, pembuatan rumus bunga adalah sebagai berikut:
1. Kelamin Bunga
Kelamin bunga tersebut yang ditunjukkan oleh
organ reproduktifnya. Jika bunga tersebut memiliki putik sekaligus benang
sari maka bunga tersebut termasuk bunga banci (hemaphrodite) dilambangkan
dengan ♀, jika bunga tersebut hanya memiliki putik maka bunga tersebut
termasuk bunga betina, dilambangkan dengan ♀. jika bunga hanya
memiliki benang sari saja maka disebut bunga jantan, dilambangkan dengan ♂.
2. Menentukan Simetri Bunga
Simetri adalah sifat suatu benda atau badan yang juga biasa disebut
untuk bagian-bagian tubuh tumbuhan (batang, daun, maupun bunga), jika benda
tadi oleh sebuah bidang dapat dibagi menjadi dua bagian, sedemikian rupa,
sehingga kedua bagian itu saling menutupi. Dapat pula dikatakan bidang pemisah
tadi merupakan sebuah cermin datar dan bagian yang satu merupakan bayangan
cermin bagian yang lainnya. Bidang yang dapat dibuat untuk memisahkan suatu
benda dalam dua bagian yang satu sama lain merupakan bayangannya dalam cermin
datar tadi, dinamakan bidang simetri.
Menurut (Tjitrosomo, 1983) macam-macam
simetri pada bunga yaitu:
a. Asimetris
atau tidak simetris, jika pada bunga tidak dapat dibuat satu bidang simetri
dengan jalan apapun juga, misalnya bunga tasbih (Canna hybrida Hort).
b. Setangkup
tunggal (monosimetris atau zygomorphus), jika pada
bunga hanya dapat di buat satu bidang simetri saja yang membagi bunga tadi
menjadi dua bagian yang setangkup. Sifat ini biasanya ditunjukkan dengan
lambang ↑ (anak panah).
c. Setangkup
menurut dua bidang (bilateral simetris atau disimetris), dapat
pula dikatakan setangkup ganda, yaitu bunga yang dapat dijadikan dua bagian
yang setangkup menurut dua bidang simetri yang tegak lurus satu sama lain,
misalnya bunga lobak (Raphanus sativus L).
d. Beraturan atau bersimetri banyak(polysimetris, regularis, atau actinomorphus),
yaitu jika dapat dibuat banyak bidang simetri untuk membagi bunga itu dalam dua
bagiannya yang setangkup, misalnya pada bunga lili gereja (Lilium
longiflorum Thunb) bunga yang beraturan seringkali ditunjukkan dengan
lambang * (bintang).
3. Menghitung Jumlah Kelopak Bunga.
Kelopak bunga dilambangkan dengan huruf K dari kata calyx atau
huruf S dari kata sepalae. Jika kelopak dan mahkota sama, baik bentuk
maupun warnanya, kita lalu mempergunakan huruf lain untuk menyatakan bagian tersebut, yaitu huruf P
4. Menghitung Jumlah Daun-Daun Mahkota
Mahkota dinyatakan dengan huruf C singkatan kata corolla atau
huruf P dari kata petalae. Sebagai contoh, jika daun mahkota
berjumlah 5 saling berdekatan maka ditulis C (5) atau P (5). Jika jumlah daun
mahkota berjumlah 5 tidak saling berdekatan maka ditulis C 5 atau P 5
Jika mahkota bunga tersusun dalam 2 sampai 3 lingkaran, maka harus
dihitung jumlah mahkota dalam lingkaran terluar dahulu baru kedalam. Jika
jumlah daun mahkota banyak maka dianggap memiliki jumlah yang tidak terbatas
sehingga ditulis ∞
5. Menghitung
Jumlah Benang Sari
Benang-benang sari yang dinyatakan dengan huruf A singkatan
kata androecium (istilah ilmiah untuk alat-alat jantan pada bunga).
Setiap benang sari memiliki kepala sari (anthera) yang
mengandung banyak serbuk sari. Kepala sari ini terkumpul menjadi satu dalam
satu tangkai sari. Jumlah kepala sari inilah yang menjadi penentu jumlah A.
6. Menghitung
Jumlah Putik
Putik yang dinyatakan dengan huruf G singkatan kata gymnaecium (istilah
untuk alat betina pada bunga) Setiap putik memiliki kepala putik (stigma) yang
mengandung banyak daun buah, kepala putik tersusun menjadi satu dalam tangkai
putik, jumlah kepala putik inilah yang menjadi penentu jumlah G.
Bunga terdiri
atas bagian yang steril dan bagian yang fertil (reproduktif). Bagian steril
meliputi sejumlah helai daun kelopak (sepal), kumpulannya disebut kaliks, dan
sejumlah helai daun mahkota (petal), kumpulannya disebut
korola. Kaliks dan korola, bersama-sama disebut perhiasan bunga (periant).
Jika periant tidak terbagi menjadi kaliks dan korola, setiap helaiannya disebut
tepal. Bagian reproduktif adalah benang sari atau stamen (mikrosporofil)
dan daun buah atau karpel (megasporofil). Keseluruhan stamen disebut andresium
dan keseluruhan karpel disebut ginesium. Kelopak bunga dan mahkota bunga
disebut perhiasan bunga. dan aroma bunga serta kelenjar madu berfungsi sebagai
alat pemikat agen penyerbuk. Agen penyerbuk dapat berupa serangga, burung atau
manusia. Alat kelamin berfungsi menghasilkan sel kelamin. Sel kelamin jantan
dihasilkan oleh benang sari,
sedangkan sel kelamin betina dihasilkan oleh putik. Kepala putik adalah tempat
peristiwa jatuhnya serbuk sari ke kepala putik. Tangkai putik merupakan saluran
bagi serbuk sari menuju ovarium.di dalam ovarium terdapat bakal biji yang di
dalamnya terdapat sel telur. Dalam ovarium terdapat satu atau lebih bakal biji
bergantung pada jenis tumbuhannya. Ovarium sekaligus merupakan bakal buahnya
(Mulyani, 2006).
Bunga
merupakan alat perkembangbiakan pada tumbuhan Angiospermae. Bunga dibentuk oleh
meristem ujung khusus yang berkembang dari ujung pucuk vegetatif setelah
dirangsang oleh faktor- faktor internal dan eksternal untuk keperluan itu.
Bunga mengandung organ-organ tumbuhan, dan fungsinya ialah untuk menghasilkan
biji-biji melalui pembiakan. Untuk tumbuhan-tumbuhan yang bertaraf lebih
tinggi, biji-biji merupakan generasi yang berikut, dan bertindak sebagai cara
yang utama untuk penyebaran individu-individu sesuatu spesies secara luas (Mulyani, 2006).
E. E. Letak Daun-daun Dalam Kuncup
Menurut
Rosanti (2013), berikut akan diuraikan bagaimana keadaan bagian-bagian bunga
khususnya mengenai kelopak dan mahkotanya, suatu bunga masih dalam keadaan
kuncup sebagai berikut.
1.
Pelipatan
(vernatio) daun-daun kelopak dan
mahkota, daun-daun kelopak dan mahkota dapat dibagi bermacam-macam yaitu:
a. rata (vernatio plana) daun dalam kuncup tidak memperlihatkan suatu
lipatan tetapi rata,
b. terlipat kedalam sepanjang ibu tulangnya
(terlipat kearah adax sial),
c. terlipat sepanjang tulang-tulang
cabangnya,
d. terlipat tidak beraturan,
e. tergulung kedalam menurut poros bugur,
f. tergulung keluar menurut poros bujur,
g. tergulung kesatu arah menurut poros
bujur,
h. tergulung kedalam menurut poros lintang,
i. tergulung keluar menurut poros lintang,
j. terlipat kebawah dan kedalam, dan
k. terlipat menurut poros lintang keluar.
1.
Letak
daus kelopak terhadap sesamanya (aestivation)
dibagi menjadi bermacam-macam susunan diantaranya yang sering kita jumpai
ialah:
a. terbuka (aterta) tepi daus kelopak dan mahkota tidak bersentuhan sama sekali
satu sama lain,
b. berkatup (valpata) tepi daus kelopak dan mahkota saling bertemu atau
bersentuhan tetapi tidak berlekatan,
c. berkatup dengan tepi melipat kedalam,
d. berkatup dengan tepinya melipat keluar,
dan
e. menyirip saling menutupi seperti susunan
genting atau sirap.
Menurut
Tjitrosoepomo (2011), susunan daun-daun kelopak atau mahkota yang saling
menutupi dapat dibedakan kedalam.
1.
yang
terpuntir kesatu arah yaitu letak daun kelopak atau mahkota Nampak seakan
terpuntir, menurut arah putarannya dapat dibedakan dalam puntiran kekiri dan
kekanan.
2.
Arah
putaran menyebabkan letak daun kelopak atau mahkota seperti duduk daun yang
mengikiti rumus 2/5. biasanya terdapat dua daun sama sekali diluar no 1 dan 2.
Dua daun sama sekali didalam no 4 dan 5, dan satu daun yang tepinya 1.

Gambar 6. Aneka ragam
perlipatan daun, kelopak dan mahkota (Tjitrosoepomo, 2011)
3.
kohlearis (cochlearis), mengikuti
garis spiral sperti pada rumah siput, pada bunga dengan 5 daun kelopak atau
lima daun kelopak atau lima daun tajuk 1 daun sama sekali diluar, 1 daun sama
sekali di dalam sedang yang 3 lainya tepi yang satu di luardan tepi yang
lainnya di dalam.
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Adapun Praktikum Morfologi Tumbuhan berkenaan dengan Rumus Bunga
dan Diagram Bunga dilaksakan pada Rabu 23 Desember 2015, pukul 08.00-10.30 WIB.
Di laboratorium Fisika Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri
(UIN) Raden Fatah Palembang.
B.
Alat dan Bahan
1.
Alat praktikum
Adapun
alat-alat yang digunakan pada praktikum Bagian-bagian Daun antara lain: lup,
mikroskop binokuler, pensil warna, dan mistar.
2.
Bahan praktikum
Adapun bahan-bahan yang digunakan pada praktikum Bagian-bagian Daun
yaitu: buku gambar, bunga mawar (Rosa sp.), alamanda (Allamanda
sachartica), bunga tasbih (Canna sp.), bunga kertas (Bougenvil
spectabilis), bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis), bunga anggrek
kalajengking (Arachis flos angeris), bunga teratai (Nelumbium nelumbo).
C. Cara Kerja
Adapun cara kerja yang dilakukan pada praktikum ini antara lain,
pertama bunga mawar (Rosa
sp.), kedua alamanda (Allamanda sachartica), ketiga bunga tasbih (Canna
sp.), keempat bunga kertas (Bougenvil spectabilis), kelima bunga
sepatu (Hibiscus rosa-sinensis), keenam bunga anggrek kalajengking (Arachis
flos angeris), ketujuh bunga teratai (Nelumbium nelumbo), diamati
kemudian dibandingkan bagian-bagian, serta hasil dari pengamatan digambarkan
dan dibuat rumus beserta diagram bunga
dengan keterangan-keterangannya atau simbol-simbol dari rumus diagram
bunga.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Tabel hasil Pengamatan Pada Rumus dan Diagram
Bunga
RUMUS
BUNGA
|
DIAGRAM
BUNGA
|
1. Bunga
sepatu (Hibiscus rosa-sinensis)
♀,
K(5), C(5), A~, G(5)
|
|
2. Bunga
Alamanda (Allamanda cathartica L.)
♀,
K(5), C(5), A~, G1
|
|
3. Anggrek
Kalajengking (Arachis flos-aeris)
♀,
P5, A0, G1
|
|
4. Teratai
(Nymphaea lotus L.)
♀,
P~, A~
|
|
5. Bunga
Mawar (Rosa sp)
♀,
↑, K5, C5+5+5, A~, G~
|
|
6. Bunga
Kertas (Bougenvilia spectabilis)
♀,
↑, K3+(5)+(5)+(5), C(5)+(5)+(5), A(8)+(8)+(8), G3
|
|
7. Bunga
Tasbih (Canna sp)
♀,
K3+3, {C2+2+1, A1}, G1
|
B. Pembahasan
Pada bunga sepatu
(Hibiscus rosa-sinensis) termasuk bangsa malvales, mempunyai ciri
khas yaitu terdapatnya ‘columna’, yaitu bagian bunga yang terdiri dari
pelekatan bagian bawah tangkai sarinya membentuk badan yang menyelubungi putik
dan bagian pangkalnya berlekatan dengan pangkal daun-daun mahkota, sehingga
bila mahkota bunga ditarik keseluruhannya akan terlepas dari bunga bersama-sama
dengan benang-benang sari dengan meninggalkan kelopak dan bakal buah saja. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa bunga sepatu memiliki rumus
bunga ♀, K(5), C(5), A~, G(5). Artinya bunga sepatu merupakan
bunga banci, yaitu pada bunganya terdapat putik dan benang sari, mempunyai
5 buah kelopak utama yang saling berlekatan, 5 buah mahkota bunga
yang juga berlekatan. Benang sarinya sangat banyak dan
saling berlekatan, putiknya ada 5 yang saling berlekatan dan menumpang.
Pada alamanda
(Allamanda cathartica L.) mempunyai rumus
bunga ♀, K(5), C(5), A~, G1. Artinya bunga alamanda
adalah bunga banci, memiliki 5 buah kelopak yang berlekatan, dan memiliki
banyak benang sari yang tidak berlekatan satu sama lain,
memiliki 5 buah mahkota, pada bunga ini putiknya hanya ada
satu dan tenggelam.
Bunga Anggrek
Kalajengking (Arachis flos-aeris) Bunga
ini termasuk bunga majemuk berkelamin dua, zygomorf, mempunyai benang sari
dan kepala putik yang terletak pada suatu kotak dan pada tenda bunga mempunyai
serupa tajuk dan warnanya bermacam-macam. Seperti warna tajuk bunga. Bunganya
banyak terdapat pada setiap tangkai dan berbentuk seperti kalajengking. Dari
hasil pengamatan dapat diketahui bahwa bunga anggrek mempunyai rumus
bunga ♀, P5, A0, G1. Artinya bunga ini merupakan bunga banci, memiliki 5
buah daun tenda bunga yang tidak berlekatan, benang sari yang sebenarnya ada namun tidak tampak pada saat pengamatan, dan
1 buah putik yang menumpang
Bunga Teratai (Nymphaea
lotus L.) Dari hasil
pengamatan dapat diketahui bahwa bunga teratai mempunyai rumus bunga ♀,
P~, A~.. Artinya bunga teratai merupakan bunga banci, memiliki
benang sari yang sangat banyak/tak terhingga. Tenda bunga berwarna putih.
Bentuk tenda bunga yaitu jorong, tidak saling berlekatan satu sama lain, dan
terletak berseling. Memiliki banyak benang sari yang terkumpul berbentuk pipih,
terletak disebelah dalam tenda bunga.
menurut Darjanto (1982) pada bunga teratai mempunyai
bagian-bagian bunga seperti (kelopak,
tajuk, benang sari, putik), pada ketiak daun kelopak atau daun tajuk
kadang-kadang terbentuk sebuah kuncup, juga bisa membentuk cabang biasa yang
berdaun.
Mawar
(Rosa sp) Mawar memiliki
rumus bunga ♀, ↑, K5, C5+5+5, A~, G~. Artinya mawar merupakan bunga banci
yang bersimetri tunggal, memilki 5 buah kelopak yang tidak berlekatan, 15 buah
mahkota yang juga tidak berlekatan dan terbagi menjadi 3 lingkar masing-masing
5 mahkota pada setiap lingkar, benang sari yang banyak/tak hingga, serta putik
yang juga tak hingga dan menumpang.
Menurut Darjanto (1982) pada bunga mawar (rosa sp) tajuk bunga atau yang sering
disebut pula mahkota bunga (corolla)
adalah rangkaian daun-daun bunga yang kedua dari bawah, yaitu yang terletak
pada lingkaran diatas kelopak, pada tajuk bunga (corolla) terdiri atas beberapa helai daun tajuk (petalum), jumlah daun tajuk (corolla) yang terdapat pada sebuah
bunga biasanya sama atau tidak banyak berbeda dengan jumlah daun-daun kelopak,
sedangkan bunga mawar (rosa sp) ini
terdapat daun-daun tajuk (corolla)
yang jumlahnya jauh lebih banyak dari pada jumlah daun-daun kelopak.
Bunga Kertas
(Bougenvilia spectabilis) terletak diujung, namun ada pula yang terletak
diketiak daun. Bunga ini daun pemikatnya ditempeli oleh satu bunga tabung
untuk setiap satu daun pemikat. Rumus bunganya adalah ♀, ↑,
K3+(5)+(5)+(5), C(5)+(5)+(5), A(8)+(8)+(8), G3. Artinya bunga kertas
merupakan bunga banci yang bersimetri 1, memiliki 18 buah kelopak yang
hanya 3 buah yang tidak saling melekat, memiliki 15 buah mahkota
yang saling berlekatan dengan benang sari yang banyak dan 3 buah
putik yang tidak berlekatan dan menumpang. Tanaman ini merupakan tumbuhan yang kokoh.
Menurut Tjitrosoepomo (2011)
bagian bunga duduk berkarang dan setiap lingkaran memuat bagian bunga yang sama
jumlahnya, misalnya ada 3 daun kelopak, 3 daun mahkota, 2 lingkaran benang sari
yang masing-masing memuat 3 benang sari dan 3 daun buah maka letak
bagian-bagian tadi pada bunga dapat berseling dan berhadapan atau tumpang
tindih
Bunga Tasbih (Canna sp) Bunga
tasbih merupakan karangan bunga yang kerap kali bercabang, bunga dalam bulir
atau tandan. Tangkai pendek, kelopak daun tidak sama. Kerap kali berwarna
serupa mahkota, panjang antara 1-15 cm. Bunga tasbih adalah bunga banci,
bunganya tidak simetris, mempunyai daun kelopak yang terpisah sebanyak 6
buah, daun mahkota ada 5yang juga terpisah. Benang sari ada 1 yang
melekat pada mahkota. Rumus bunga tasbih adalah ♀, K3+3, {C2+2+1, A1}, G1.
BAB V
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan dapat
diambil kesimpulan bahwa bunga sepatu, bunga mawar, buang tasbih, bunga kertas,
bunga teratai, bunga anggrek kalajengking merupakan bunga yang jenis kelamin
hermaprodit atau banci. Sedangkan simetri pada semua bunga tidak memiliki
simetri kecuali pada bung kertas dan bunga mawar yang bersimerti 1. Bagian-
bagian bunga kelopak dan mahkota hampir dimiliki oleh semua, contoh bunga
kecuali pada bunga teratai dan bunga anggrek yang memiliki tenda bunga.
Sedangkan contoh bunga yang bakal buahnya tenggelam hanya terdapat pada bunga
tasbih
DAFTAR PUSTAKA
Darjanto.1982.
Pengetahuan Dasar Biologi Bunga dan Teknik Penyerbukan Silang Buatan. Jakarta.
PT Gramedia.
Hidayat B, Estiti. 1995. Anatomi
Tumbuhan Berbiji. Bandung: ITB.
Mulyani, Sri. 2006. Anatomi
Tumbuhan. Yogyakarta: Kanisus
Rosanti, Dewi.
2013. Morfologi Tumbuhan. Jakarta: Erlangga.
Tjitrosoepomo,
Gembong. 1995. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: UGM Press.
Tjitrosomo,
Siti Sutarmi dkk. 1983. Botani Umum 1. Bandung: Angkasa.
Tjitrosoepomo,
Gembong. 2009 . Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: UGM
Press.