Kamis, 07 Januari 2016

Laporan praktikum mortum diagram bunga

LAPORAN PRAKTIKUM
RUMUS BUNGA DAN DIAGRAM BUNGA(FLOS)




Nama   :           Muhammad Irsan
NIM    :           14 222 102


Dosen Pengampu
Ike Apriani, M. Si


Asisten
Tri Oktari



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN FATAH
PALEMBANG
2015



BAB I
PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang
Bunga merupakan alat reproduksi seksual. Suatu bunga yang lengkap mempunyai daun kelopak, daun mahkota, benang sari, putik, dan daun buah. Bunga terdiri atas bagian yang fertil, yaitu benang sari dan daun buah, serta bagian yang steril yaitu daun kelopak dan daun mahkota. Bunga merupakan sebagian dari cara reproduksi seksual yang menghasilkan biji, dan akhirnya dari bijilah diperoleh tumbuhan baru (Tjitrosomo, 1983).
Bagian tumbuhan yang sering dideskripsikan adalah bunga. Dalam mendeskripsikan bunga, selain dengan kata-kata, dapat ditambahkan dengan gambar-gambar yang melukiskan bagian-bagian bunga atau berupa diagram bunga. Kecuali dengan diagram, susunan bunga dapat dinyatakan dengan sebuah rumus yang terdiri atas lambang-lambang, huruf-huruf dan angka-angka yang semua itu dapat memberikan gambaran mengenai berbagai sifat bunga beserta bagian-bagiannya. Untuk memudahkan mengamati bagian-bagian bunga yang terdiri dari tangkai bunga (pedicellus), dasar bunga (receptaculum),  kelopak  (calyx),  mahkota  (corolla),   benang sari (stamen), dan putik (pistillum) secara singkat dapat ditulis dengan menggunakan rumus bunga atau dengan diagram bunga untuk memudahkan kita dalam mengidentifikasi suatu bunga. Diagram bunga merupakan gambaran proyeksi pada bidang datar dari semua bagian yang dipotong melintang, jadi pada diagram itu digambarkan penampang-penampang melintang daun-daun kelopak, tajuk bunga, benang sari, dan putik, juga bagian-bagian lain yang masih ada selain keempat bagian utama tersebut (Tjitrosoepomo, 1995).

B.             Tujuan
Adapun tujuan praktikum tentang Rumus dan Diagram Bunga adalah untuk membuat rumus bunga dari diagram bunga.




BAB II
KAJIAN PUSTAKA


A.            A.    Pengertian Diagram Bunga
       Menurut Tjitrosoepomo (2009), Diagram bunga ialah suatu gambar proyeksi pada bidang datar dari semua bagian bunga yang dipotong melintang, jadi pada diagram itu digambarkan penampang-penampang melintang daun-daun kelopak  tajuk bunga, benang  sari, dan putik. Perlu diperhatikan, bahwa lazimnya, dari daun-daun kelopak dan tajuk bunga di gambarkan penampang melintang bagian tengah-tengahnya, sedangkan dari benang sari digambarkan penampang kepala sari, dan dari putik penampang melintang bakal buahnya.Dari diagram bunga itu selanjutnya dapat diketahui pula jumlah masing-masing bagian bunga tadi dan bagaimana letak dan susunannya antara yang satu dengan yang lain. Dalam diagram bunga, masing-masing bagian harus digambarkan sedemikian rupa, sehingga tidak mungkin dua bagian bunga yang berlainan digambarkan dengan lambang yang sama. Jika kita hendak membuat diagram bunga, kita harus memperhatikan hal-hal berikut.
1. Letak bunga pada tumbuhan dalam hubungannya dengan perencanaan   suatu diagram, kita hanya membedakan dua macam letak bunga:
a.       bunga pada ujung batang atau cabang (flosterminalis).
b.      bunga yang terdapat dalam ketiak daun (flos axillaris).
2. Bagian-bagiann bunga yang akan kita buat diagram tadi tersusun dalam berapa lingkaran.
        Dalam membicarakan tentang bunga dan bagian-bagiannya, telah diterangkan, bahwa bagian-bagian bunga duduk diatas dasar bunga, masing-masing teratur dalam satu lingkaran atau lebih. Dalam diagram bunga, masing-masaing bagian harus digambarkan sedemikian rupa, sehingga tidak mungkin dua bagian bunga yang berlainan digambarkan dengan gambar yang sama. Mengingat, bahwa yang digambar pada diagram itu penampang-penampang melintang masing-masing bagian bunga yang telah dijelaskan diatas (Tjitrosoepomo, 2009).
        Jika dari bunga yang hendak kita buat diagramnya telah kita tentukan kedua hal tersebut, kita mulai dengan membuat sejumlah lingkaran yang konsentris, sesuai dengan jumlah lingkaran tempat duduk bagian-bagian bunganya. Kemudian melalui titik pusat lingkaran-lingakran yang konsentris itu kita buat garis tegak lurus (vertik). Untuk bunga di ketiak daun, garis itu menggambarkan bidang yang dapat dibuat melalui sumbu bunga, sumbu batang yang mendukung bunga itu, dan tengah-tengah (poros bujur) daun, yang dari ketiaknya muncul bunga tadi. Bidang ini disebut bidang median. Pada garis yang menggambarkan bidang median itu disebelah atas lingkaran yang terluar digambarkan secara skematik penampang melintang batang (digambarkan sebagai lingkaran kecil) dan disebelah bawahnya gambar skematik daun pelindungnya. Pada lingkaran-lingkarannya sendiri berturut-turut dari luar ke dalam digambarkan daun-daun kelopak, daun-daun tajuk, benang sari, dan yang terakhir penampang melintang bakal buah  (Tjitrosoepomo, 2009).

B.           B. Dasar Bunga (receptaculum atau torus)
Menurut Hidayat (1995), di mana telah dikemukakan bahwa bunga dapat diaggap sebagai tunas yang mengalami metamorphosis dan dasar bunga adalah tidak lain dari ujung batang yang terhenti pertumbuhannya, biasanya menebal atau melebar dan menjadi pendukung bagian-bagian bunga yang merupakan metamorphosis daun, yaitu kelopak, tajuk bunga, benang sari, dan putik. Dasar pada bunga sering memperlihatkan bagian-bagian yang khusus mendukung satu bagian bunga atau lebih dan bergantung pada bagian bunga yang di dukungnya, bagian dasar bunga diberi nama yang berbeda-beda.
1.      Pendukung tajuk bunga atau antofor (anthophorum) yaitu bagian dasar bunga tempat duduknya daun-daun tajuk bunga, seperti terdapat pada bunga anyelir (Dianthus caryophyllus L.).
2.      Pendukung benang sari atau androfor (androphorum), bagian dasar bunga yang sering kali meninggi atau memanjang dan menjadi tempat duduknya benang sari, misalnya bunga maman (Gynandropsis pentaphylla D.C).
3.      Pendukung putik atau ginofor (Gynophorum) suatu peninggian pada dasar bunga yang khusus menjadi tempat duduknya putik, seperti terdapat pada bunga teratai besar (Nelumbium nelumbo Druce).
4.      Pendukung benang sari dan putik atau androginofor (androgynophorum), bagian dasar bunga yang meninggi dan mendukung benang sari dan putik di atasnya, misalnya pada bunga markisah (Passiflora quadrangularis L.).
5.      Cakram (discus), bagian dasar bunga sering terdapat semacam peninggian atau bantalan berbentuk cakram yang sering kali mempunyai kelenjer madu, misalnya pada bunga jeruk (Citrus sp)

C.         C.      Bagian Bunga
Menurut Moertolo (2004), pada umumnya bunga terbagi menjadi 4 bagian yaitu:
1. Tangkai bunga (pedicellus), yaitu bagian bunga yang masih jelas bersifat batang, padanya seringkali terdapat daun-daun peralihan, yaitu bagian-bagian yang menyerupai daun, berwarna hijau, yang seakan-akan merupakan peralihan dari daun biasa ke hiasan bunga.
2.    Dasar bunga (receptaculum), yaitu ujung tangkai yang seringkali melebar, dengan ruas – ruas yang amat pendek, sehingga daun – daun yang telah mengalami metamorfosis menjadi bagian – bagian bunga yang duduk amat rapat satu sama lain, bahkan biasanay lalu tampak duduk dalam satu lingkaran.
3.    Hiasan bunga (perianthium), yaitu bagian bunga yang merupakan penjelmaan daun yang masih tampak berbentuk lembaran dengan tulang – tulang atau urat – urat yang masih jelas. Biasanya hiasan bunga dapat di bedakan dalam dua bagian yang masing – masing duduk dalam satu lingkaran. Jadi bagian – bagian hiasan bunga itu umumnya tersusun dalam dua bagian antara lain: kelopak (kalix) dan mahkota bunga (corolla).
4.    Alat-alat kelamin jantan (androecium), bagian ini sesungguhnya juga merupakan metamorfosis daun yang menghasilkan serbuk sari. Androecium terdiri atas sejumlah benang sari (stamen).
5.    Alat kelamin betina (gynaecium), yang pada bunga merupakan bagian yang biasanya disebut putik (pistilum), juga putik terdiri atas metamorfosis daun yang disebut daun buah (carpella). Pada bunga dapat ditemukan satu atau beberapa putik, dan setiap putik dapat terdiri atas beberapa daun buah.

D.                Rumus Bunga
Rumus bunga merupakan gambaran tentang keadaan suatu bunga. Rumus bunga menunjukkan keadaan kelopak bunga, mahkota, organ-organ reproduktifnya, dan simetrinya (Rosanti, 2013).
Lambang-lambang yang dipakai dalam rumus bunga memberitahukan sifat bunga yang bertalian dengan simetrinya atau jenis kelaminnya, huruf-huruf merupakan singkatan nama bagian-bagian bunga. Disamping itu masih terdapat lambang-lambang lain lagi yang memperlihatkan hubungan bagian-bagian bunga satu sama lain (Tjitrosoepomo, 1985).
Menurut Rosanti (2013), secara berturut-turut, pembuatan rumus bunga adalah sebagai berikut:
1.    Kelamin Bunga
Kelamin bunga tersebut yang ditunjukkan oleh organ reproduktifnya. Jika bunga tersebut memiliki putik sekaligus benang sari maka bunga tersebut termasuk bunga banci (hemaphrodite) dilambangkan dengan ♀, jika bunga tersebut hanya memiliki putik maka bunga tersebut termasuk bunga betina, dilambangkan dengan ♀.  jika bunga hanya memiliki benang sari saja maka disebut bunga jantan, dilambangkan dengan ♂.


 2.     Menentukan Simetri Bunga
Simetri adalah sifat suatu benda atau badan yang juga biasa disebut untuk bagian-bagian tubuh tumbuhan (batang, daun, maupun bunga), jika benda tadi oleh sebuah bidang dapat dibagi menjadi dua bagian, sedemikian rupa, sehingga kedua bagian itu saling menutupi. Dapat pula dikatakan bidang pemisah tadi merupakan sebuah cermin datar dan bagian yang satu merupakan bayangan cermin bagian yang lainnya. Bidang yang dapat dibuat untuk memisahkan suatu benda dalam dua bagian yang satu sama lain merupakan bayangannya dalam cermin datar tadi, dinamakan bidang simetri.
Menurut (Tjitrosomo, 1983) macam-macam simetri pada bunga yaitu:
a.    Asimetris atau tidak simetris, jika pada bunga tidak dapat dibuat satu bidang simetri dengan jalan apapun juga, misalnya bunga tasbih (Canna hybrida Hort).
b.    Setangkup tunggal (monosimetris atau zygomorphus), jika pada bunga hanya dapat di buat satu bidang simetri saja yang membagi bunga tadi menjadi dua bagian yang setangkup. Sifat ini biasanya ditunjukkan dengan lambang ↑ (anak panah).
c.    Setangkup menurut dua bidang (bilateral simetris atau disimetris), dapat pula dikatakan setangkup ganda, yaitu bunga yang dapat dijadikan dua bagian yang setangkup menurut dua bidang simetri yang tegak lurus satu sama lain, misalnya bunga lobak (Raphanus sativus L).
d.   Beraturan atau bersimetri banyak(polysimetris, regularis, atau actinomorphus), yaitu jika dapat dibuat banyak bidang simetri untuk membagi bunga itu dalam dua bagiannya yang setangkup, misalnya pada bunga lili gereja (Lilium longiflorum Thunb) bunga yang beraturan seringkali ditunjukkan dengan lambang * (bintang).


3.      Menghitung Jumlah Kelopak Bunga.
Kelopak bunga dilambangkan dengan huruf K dari kata calyx atau huruf S dari kata sepalae. Jika kelopak dan mahkota sama, baik bentuk maupun warnanya, kita lalu mempergunakan huruf lain untuk menyatakan bagian tersebut, yaitu huruf P 
4.      Menghitung Jumlah Daun-Daun Mahkota
Mahkota dinyatakan dengan huruf C singkatan kata corolla atau huruf P dari kata petalae. Sebagai contoh, jika daun mahkota berjumlah 5 saling berdekatan maka ditulis C (5) atau P (5). Jika jumlah daun mahkota berjumlah 5 tidak saling berdekatan maka ditulis C 5 atau P 5
Jika mahkota bunga tersusun dalam 2 sampai 3 lingkaran, maka harus dihitung jumlah mahkota dalam lingkaran terluar dahulu baru kedalam. Jika jumlah daun mahkota banyak maka dianggap memiliki jumlah yang tidak terbatas sehingga ditulis ∞
5.      Menghitung Jumlah Benang Sari
Benang-benang sari yang dinyatakan dengan huruf A singkatan kata androecium (istilah ilmiah untuk alat-alat jantan pada bunga). Setiap  benang sari memiliki kepala sari (anthera) yang mengandung banyak serbuk sari. Kepala sari ini terkumpul menjadi satu dalam satu tangkai sari. Jumlah kepala sari inilah yang menjadi penentu jumlah A.
6.      Menghitung Jumlah Putik
Putik yang dinyatakan dengan huruf G singkatan kata gymnaecium  (istilah untuk alat betina pada bunga) Setiap putik memiliki kepala putik (stigma) yang mengandung banyak daun buah, kepala putik tersusun menjadi satu dalam tangkai putik, jumlah kepala putik inilah yang menjadi penentu jumlah G.
Bunga terdiri atas bagian yang steril dan bagian yang fertil (reproduktif). Bagian steril meliputi sejumlah helai daun kelopak (sepal), kumpulannya disebut kaliks, dan sejumlah helai daun mahkota (petal), kumpulannya disebut korola. Kaliks dan korola, bersama-sama disebut perhiasan bunga (periant). Jika periant tidak terbagi menjadi kaliks dan korola, setiap helaiannya disebut tepal. Bagian reproduktif adalah benang sari atau stamen (mikrosporofil) dan daun buah atau karpel (megasporofil). Keseluruhan stamen disebut andresium dan keseluruhan karpel disebut ginesium. Kelopak bunga dan mahkota bunga disebut perhiasan bunga. dan aroma bunga serta kelenjar madu berfungsi sebagai alat pemikat agen penyerbuk. Agen penyerbuk dapat berupa serangga, burung atau manusia. Alat kelamin berfungsi menghasilkan sel kelamin. Sel kelamin jantan dihasilkan oleh benang sari, sedangkan sel kelamin betina dihasilkan oleh putik. Kepala putik adalah tempat peristiwa jatuhnya serbuk sari ke kepala putik. Tangkai putik merupakan saluran bagi serbuk sari menuju ovarium.di dalam ovarium terdapat bakal biji yang di dalamnya terdapat sel telur. Dalam ovarium terdapat satu atau lebih bakal biji bergantung pada jenis tumbuhannya. Ovarium sekaligus merupakan bakal buahnya (Mulyani, 2006).
Bunga merupakan alat perkembangbiakan pada tumbuhan Angiospermae. Bunga dibentuk oleh meristem ujung khusus yang berkembang dari ujung pucuk vegetatif setelah dirangsang oleh faktor- faktor internal dan eksternal untuk keperluan itu. Bunga mengandung organ-organ tumbuhan, dan fungsinya ialah untuk menghasilkan biji-biji melalui pembiakan. Untuk tumbuhan-tumbuhan yang bertaraf lebih tinggi, biji-biji merupakan generasi yang berikut, dan bertindak sebagai cara yang utama untuk penyebaran individu-individu sesuatu spesies secara luas (Mulyani, 2006).

E.               E.   Letak Daun-daun Dalam Kuncup

Menurut Rosanti (2013), berikut akan diuraikan bagaimana keadaan bagian-bagian bunga khususnya mengenai kelopak dan mahkotanya, suatu bunga masih dalam keadaan kuncup sebagai berikut.
1.         Pelipatan (vernatio) daun-daun kelopak dan mahkota, daun-daun kelopak dan mahkota dapat dibagi bermacam-macam yaitu:
a.    rata (vernatio plana) daun dalam kuncup tidak memperlihatkan suatu lipatan tetapi rata,
b.    terlipat kedalam sepanjang ibu tulangnya (terlipat kearah adax sial),
c.    terlipat sepanjang tulang-tulang cabangnya,
d.   terlipat tidak beraturan,
e.    tergulung kedalam menurut poros bugur,
f.     tergulung keluar menurut poros bujur,
g.    tergulung kesatu arah menurut poros bujur,
h.    tergulung kedalam menurut poros lintang,
i.      tergulung keluar menurut poros lintang,
j.      terlipat kebawah dan kedalam, dan
k.    terlipat menurut poros lintang keluar.
1.         Letak daus kelopak terhadap sesamanya (aestivation) dibagi menjadi bermacam-macam susunan diantaranya yang sering kita jumpai ialah:
a.    terbuka (aterta) tepi daus kelopak dan mahkota tidak bersentuhan sama sekali satu sama lain,
b.    berkatup (valpata) tepi daus kelopak dan mahkota saling bertemu atau bersentuhan tetapi tidak berlekatan,
c.    berkatup dengan tepi melipat kedalam,
d.   berkatup dengan tepinya melipat keluar, dan
e.    menyirip saling menutupi seperti susunan genting atau sirap.
Menurut Tjitrosoepomo (2011), susunan daun-daun kelopak atau mahkota yang saling menutupi dapat dibedakan kedalam.
1.         yang terpuntir kesatu arah yaitu letak daun kelopak atau mahkota Nampak seakan terpuntir, menurut arah putarannya dapat dibedakan dalam puntiran kekiri dan kekanan.
2.         Arah putaran menyebabkan letak daun kelopak atau mahkota seperti duduk daun yang mengikiti rumus 2/5. biasanya terdapat dua daun sama sekali diluar no 1 dan 2. Dua daun sama sekali didalam no 4 dan 5, dan satu daun yang tepinya 1.
Gambar 6. Aneka ragam perlipatan daun, kelopak dan mahkota      (Tjitrosoepomo, 2011)

3.         kohlearis (cochlearis), mengikuti garis spiral sperti pada rumah siput, pada bunga dengan 5 daun kelopak atau lima daun kelopak atau lima daun tajuk 1 daun sama sekali diluar, 1 daun sama sekali di dalam sedang yang 3 lainya tepi yang satu di luardan tepi yang lainnya di dalam.









  
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

A.      Waktu dan Tempat
Adapun Praktikum Morfologi Tumbuhan berkenaan dengan Rumus Bunga dan Diagram Bunga dilaksakan pada Rabu 23 Desember 2015, pukul 08.00-10.30 WIB. Di laboratorium Fisika Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang.

B.       Alat dan Bahan
1.         Alat praktikum
Adapun alat-alat yang digunakan pada praktikum Bagian-bagian Daun antara lain: lup, mikroskop binokuler, pensil warna, dan mistar.
2.         Bahan praktikum
Adapun bahan-bahan yang digunakan pada praktikum Bagian-bagian Daun yaitu: buku gambar, bunga mawar (Rosa sp.), alamanda (Allamanda sachartica), bunga tasbih (Canna sp.), bunga kertas (Bougenvil spectabilis), bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis), bunga anggrek kalajengking (Arachis flos angeris), bunga teratai (Nelumbium nelumbo).

C.      Cara Kerja
Adapun cara kerja yang dilakukan pada praktikum ini antara lain, pertama bunga mawar (Rosa sp.), kedua alamanda (Allamanda sachartica), ketiga bunga tasbih (Canna sp.), keempat bunga kertas (Bougenvil spectabilis), kelima bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis), keenam bunga anggrek kalajengking (Arachis flos angeris), ketujuh bunga teratai (Nelumbium nelumbo), diamati kemudian dibandingkan bagian-bagian, serta hasil dari pengamatan digambarkan dan dibuat rumus beserta diagram bunga  dengan keterangan-keterangannya atau simbol-simbol dari rumus diagram bunga.



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN


A.    Hasil
Tabel hasil Pengamatan Pada Rumus dan Diagram Bunga
RUMUS BUNGA
DIAGRAM BUNGA
1.    Bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis)
♀, K(5), C(5), A~, G(5)
2.    Bunga Alamanda (Allamanda cathartica L.)
♀, K(5), C(5), A~, G1
3.    Anggrek Kalajengking (Arachis flos-aeris)
♀, P5, A0, G1
4.    Teratai (Nymphaea lotus L.)
♀, P~, A~
5.    Bunga Mawar (Rosa sp)
♀, ↑, K5, C5+5+5, A~, G~
6.    Bunga Kertas (Bougenvilia spectabilis)
♀, ↑, K3+(5)+(5)+(5), C(5)+(5)+(5), A(8)+(8)+(8), G3
7.    Bunga Tasbih (Canna sp)
♀, K3+3, {C2+2+1, A1}, G1

B.    Pembahasan
  Pada bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis) termasuk bangsa malvales, mempunyai ciri khas yaitu terdapatnya ‘columna’, yaitu bagian bunga yang terdiri dari pelekatan bagian bawah tangkai sarinya membentuk badan yang menyelubungi putik dan bagian pangkalnya berlekatan dengan pangkal daun-daun mahkota, sehingga bila mahkota bunga ditarik keseluruhannya akan terlepas dari bunga bersama-sama dengan benang-benang sari dengan meninggalkan kelopak dan bakal buah saja. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa bunga sepatu memiliki rumus bunga ♀, K(5), C(5), A~, G(5). Artinya bunga sepatu merupakan bunga banci, yaitu pada bunganya terdapat putik dan benang sari, mempunyai 5 buah kelopak utama yang saling berlekatan, 5 buah mahkota bunga yang  juga berlekatan. Benang sarinya sangat banyak dan saling berlekatan, putiknya ada 5 yang saling berlekatan dan menumpang.
Pada alamanda (Allamanda cathartica L.) mempunyai rumus bunga ♀, K(5), C(5), A~, G1.  Artinya bunga alamanda adalah bunga banci, memiliki 5 buah kelopak yang berlekatan, dan memiliki banyak benang sari yang tidak berlekatan satu sama lain, memiliki 5 buah mahkota, pada bunga ini putiknya hanya ada satu dan tenggelam.
Bunga Anggrek Kalajengking (Arachis flos-aeris) Bunga ini termasuk bunga majemuk berkelamin dua, zygomorf, mempunyai benang sari dan kepala putik yang terletak pada suatu kotak dan pada tenda bunga mempunyai serupa tajuk dan warnanya bermacam-macam. Seperti warna tajuk bunga. Bunganya banyak terdapat pada setiap tangkai dan berbentuk seperti kalajengking. Dari hasil pengamatan dapat diketahui bahwa bunga anggrek mempunyai rumus bunga ♀, P5, A0, G1. Artinya bunga ini merupakan bunga banci, memiliki 5 buah daun tenda bunga yang tidak berlekatan, benang sari yang sebenarnya ada namun tidak tampak pada saat pengamatan, dan 1 buah putik yang menumpang                   
Bunga Teratai (Nymphaea lotus L.) Dari hasil pengamatan dapat diketahui bahwa bunga teratai mempunyai rumus bunga ♀, P~, A~.. Artinya bunga teratai merupakan bunga banci, memiliki benang sari yang sangat banyak/tak terhingga. Tenda bunga berwarna putih. Bentuk tenda bunga yaitu jorong, tidak saling berlekatan satu sama lain, dan terletak berseling. Memiliki banyak benang sari yang terkumpul berbentuk pipih, terletak disebelah dalam tenda bunga.
menurut Darjanto (1982) pada bunga teratai mempunyai bagian-bagian bunga seperti  (kelopak, tajuk, benang sari, putik), pada ketiak daun kelopak atau daun tajuk kadang-kadang terbentuk sebuah kuncup, juga bisa membentuk cabang biasa yang berdaun.
Mawar (Rosa sp) Mawar memiliki rumus bunga ♀, ↑, K5, C5+5+5, A~, G~. Artinya mawar merupakan bunga banci yang bersimetri tunggal, memilki 5 buah kelopak yang tidak berlekatan, 15 buah mahkota yang juga tidak berlekatan dan terbagi menjadi 3 lingkar masing-masing 5 mahkota pada setiap lingkar, benang sari yang banyak/tak hingga, serta putik yang juga tak hingga dan menumpang.
Menurut Darjanto (1982) pada bunga mawar (rosa sp) tajuk bunga atau yang sering disebut pula mahkota bunga (corolla) adalah rangkaian daun-daun bunga yang kedua dari bawah, yaitu yang terletak pada lingkaran diatas kelopak, pada tajuk bunga (corolla) terdiri atas beberapa helai daun tajuk (petalum), jumlah daun tajuk (corolla) yang terdapat pada sebuah bunga biasanya sama atau tidak banyak berbeda dengan jumlah daun-daun kelopak, sedangkan bunga mawar (rosa sp) ini terdapat daun-daun tajuk (corolla) yang jumlahnya jauh lebih banyak dari pada jumlah daun-daun kelopak.
Bunga Kertas (Bougenvilia spectabilis) terletak diujung, namun ada pula yang terletak diketiak daun. Bunga ini daun pemikatnya ditempeli oleh satu bunga tabung untuk setiap satu daun pemikat. Rumus bunganya adalah ♀, ↑, K3+(5)+(5)+(5), C(5)+(5)+(5), A(8)+(8)+(8), G3. Artinya bunga kertas merupakan bunga banci yang bersimetri 1, memiliki 18 buah kelopak yang hanya 3 buah yang tidak saling melekat, memiliki 15 buah mahkota yang saling berlekatan dengan benang sari yang banyak dan 3 buah putik yang tidak berlekatan dan menumpang. Tanaman ini merupakan tumbuhan yang kokoh.
Menurut Tjitrosoepomo (2011) bagian bunga duduk berkarang dan setiap lingkaran memuat bagian bunga yang sama jumlahnya, misalnya ada 3 daun kelopak, 3 daun mahkota, 2 lingkaran benang sari yang masing-masing memuat 3 benang sari dan 3 daun buah maka letak bagian-bagian tadi pada bunga dapat berseling dan berhadapan atau tumpang tindih
Bunga Tasbih (Canna sp) Bunga tasbih merupakan karangan bunga yang kerap kali bercabang, bunga dalam bulir atau tandan. Tangkai pendek, kelopak daun tidak sama. Kerap kali berwarna serupa mahkota, panjang antara 1-15 cm. Bunga tasbih adalah bunga banci, bunganya tidak simetris, mempunyai daun kelopak yang terpisah sebanyak 6 buah, daun mahkota ada 5yang juga terpisah. Benang sari ada 1 yang melekat pada mahkota. Rumus bunga tasbih adalah ♀, K3+3, {C2+2+1, A1}, G1.





BAB V
PENUTUP

A.           Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa bunga sepatu, bunga mawar, buang tasbih, bunga kertas, bunga teratai, bunga anggrek kalajengking merupakan bunga yang jenis kelamin hermaprodit atau banci. Sedangkan simetri pada semua bunga tidak memiliki simetri kecuali pada bung kertas dan bunga mawar yang bersimerti 1. Bagian- bagian bunga kelopak dan mahkota hampir dimiliki oleh semua, contoh bunga kecuali pada bunga teratai dan bunga anggrek yang memiliki tenda bunga. Sedangkan contoh bunga yang bakal buahnya tenggelam hanya terdapat pada bunga tasbih






DAFTAR PUSTAKA


Darjanto.1982. Pengetahuan Dasar Biologi Bunga dan Teknik Penyerbukan Silang Buatan. Jakarta. PT Gramedia.

Hidayat B, Estiti. 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Bandung: ITB.

Mulyani, Sri. 2006. Anatomi Tumbuhan. Yogyakarta: Kanisus

Rosanti, Dewi. 2013. Morfologi Tumbuhan. Jakarta: Erlangga.

Tjitrosoepomo, Gembong. 1995. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: UGM Press.

Tjitrosomo, Siti Sutarmi dkk. 1983. Botani Umum 1. Bandung: Angkasa.

Tjitrosoepomo, Gembong. 2009 . Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: UGM Press.